Ular dan Merpati
Ular dan merpati , keduanya adalah ciptaan Yang Maha Kuasa . Keduanya memiliki keunikan tersendiri. Tidak heran banyak perumpamaan , kata - kata bijak atau ajaran - ajaran kepercayaan yang mengambil pelajaran dari ular dan merpati . Ular selalu dilambangkan dengan hal - hal negatif dan bahkan kepada hal - hal yang mengandung unsur kejahatan dan kegelapan. Sedangkan, merpati selalu dilambangkan dengan hal - hal positif dan kepada hal - hal yang mengandung unsur kesucian serta ketulusan.
Mengapa mereka sangat jauh berbeda ? Mari kita ulas sedikit mengenai perbedaan mereka 👀 .
Siapa yang tidak tahu mengenai gambar di samping ini ? Ya, ini ular , mereka memiliki banyak jenis dan karakter tersendiri. Tetapi kita tidak membahas atau membedah setiap jenis dari mereka. Pada umumnya, karakteristik ular ialah mereka tidak memiliki indera pendengaran sama sekali, jadi mereka dapat merasakan getaran dengan rahang bawah mereka ketika mereka menjalar di permukaan tanah. Karakteristik yang kedua ialah mereka memiliki lidah bercabang dua yang mana ukurannya panjang dan runcing, sedangkan pada giginya tidak berfungsi untuk mengunyah mangsanya, tetapi digunakan untuk memegang / melumpuhkan mangsanya, dan mereka akan menelan mangsanya dengan kepalanya terlebih dahulu😨 . Baiklah sekian untuk beberapa karakteristik ular pada umumnya , sekarang kita akan beralih kepada merpati 🙆🙆.
Burung yang satu ini tentunya banyak yang menyukainya. Bahkan saya sendiri pun sangat menyukai merpati 💓. Merpati juga memiliki banyak jenis, namun merpati yang berukuran kecil biasanya sering disebut dengan burung dara, namun ukuran yang besar disebut dengan merpati. Karakteristik merpati pada umumnya ialah mereka memiliki insting terbang untuk pulang kembali kepada pemiliknya sangat baik, maka tidak heran logo dari salah suatu perusahaan logistik memakai lambang dengan burung merpati. Kemudian, mereka memiliki tingkat kemudahan masing - masing untuk dilatih oleh pemiliknya, dan yang ketiga ialah mereka hanya mencari pasangannya sekali seumur hidup, ia akan setia dengan pasangannya sampai salah satu di antaranya mati 💏. Lalu, pernahkah kita membayangkan bagaimana jika ular dan merpati tinggal di dalam satu sangkar ? apa yang terjadi dengan ular ? dan apa yang akan dilakukan oleh merpati ? 👀
Saya mengambil sebuah kutipan dari ayat Alkitab yang tertulis di dalam Matius 10 : 16b " ...sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular, dan tulus seperti merpati ."
Kutipan ayat atau ungkapan perumpamaan tersebut sudah banyak digunakan pada seluruh umat manusia. Namun, tidak sedikit yang mengartikan kutipan ayat tersebut untuk menguntungkan diri sendiri , mendirikan kebenaran diri sendiri , mendirikan kebohongan untuk sesuatu hal , atau bahkan untuk membela hal yang salah untuk "kebaikan" diri sendiri atau suatu kelompok / golongan ( hal ini tentunya sudah lebih menonjol "ular" nya daripada "merpati" nya ).
Pertanyaan itu kembali mengusik saya : bagaimana jika ular dan merpati tinggal di dalam satu sangkar ? 😔 Sudah pasti merpati akan menjadi mangsa bagi ular . Ular tidak memiliki indera pendengaran , lidah yang bercabang dua , dan gigi nya untuk melumpuhkan dan menelan mangsanya . Dengan kata lain , ketika kita menggunakan kutipan ayat tersebut untuk kepentingan diri atau golongan maka , dapat diartikan "merpati" itu sudah menjadi mangsa "ular". Sifat ketulusan , kesetiaan, dan kebaikan kita sudah "diracuni" oleh ketamakan , kerakusan , dan kecerdikan yang memiliki kecenderungan menjadi kelicikan .
Saya pribadi ingin menuliskan bahwa manusia yang berjalan tanpa ketulusan menjalani hidup akan menjadi manusia yang penuh dengan kelicikan . Mengapa ? karena akan lebih mengandalkan kecerdikan berfikirnya , kemampuan dirinya , atau bahkan berharap kepada kekuatan dan segala cara manusia demi mencapai apa yang menjadi harapan dan kerinduannya. Manusia yang berjalan dengan ketulusan menjalani hidup akan menjadi manusia yang bahagia dan penuh dengan rasa syukur atas nikmat yang Tuhan berikan baik dalam apapun kondisinya.
Lalu ? apakah salah untuk hidup yang memiliki kecerdikan seperti ular ? tidak
Lantas, apa yang salah ? Yang menjadi salah ialah ketika kita mengandalkan cara berfikir kita , sehingga pikiran kita "diracuni" oleh suntikan ular yaitu segala godaan setan / iblis , segala trik berfikir setan / iblis , sebab kita ini manusia yang lemah yang tidak bisa menjaga diri , mengatasi diri , dan mengendalikan diri dari godaan, dan serangan setan / iblis.
Lalu ? bagaimana untuk dapat kita mengetahui bahwa segala godaan kecerdikan itu akan mencelakakan kita pada akhirnya ? sebelum bertindak , minta petunjuk dari Yang Maha Kuasa , tentunya petunjuk ini bisa lewat apapun dan dari siapapun , bahkan terutama Yang Maha Kuasa akan berbicara lewat hati nurani.
Sebab , hati nurani adalah bagaikan sarang . Ya , sarang hidup kita . Jika ego di hati kita lebih dominan , maka nurani akan kalah . Arti dari nurani menurut KBBI ialah hati yang telah mendapat cahaya Tuhan . Maka itu , mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa adalah satu - satunya cara untuk membuat hati kita ini menjadi "sarang bagi merpati" , yang penuh bahkan dapat berlimpah dengan ketulusan , kesetiaan , dan kebaikan dari Tuhan Yang Maha Kuasa .
Maka arti dari ungkapan tersebut dapat diartikan sebagai sebuah kecerdikan yang tidak dapat dikalahkan oleh hati yang dipenuhi cahaya yang berasal dari Tuhan . Kembalikan hati kita kepada niat yang tulus apabila kita hendak melakukan atau menempatkan cara berfikir kita untuk meraih atau melakukan sesuatu hal .
Kuncinya ialah mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa , supaya kita tidak terjebak dengan keputusan yang salah dalam melangkah , tidak terbutakan oleh suara hati nurani yang telah disesatkan oleh bisikan atau desisan "halus" si ular .
Karena saya adalah seorang nasrani , maka saya pun mendekatkan diri kepada Tuhan dengan menjalankan ibadah keyakinan saya . Begitu pun dengan Anda, sebab kita manusia hanyalah debu tanah , mahkluk lemah , dan hidupnya singkat seperti uap.
🙏🙏


Comments
Post a Comment